MEMBANGUN KARAKTER PROFESIONAL


Judul Buku : MEMBANGUN KARAKTER PROFESIONAL
Penulis : Rahayu S Purnami
Penerbit : Simbiosa Rekatama Media
Harga : Rp …………………….

Sinopsis Buku :
Pada awalnya kita terlahir dengan potensi yang sangat luar biasa. Sebagai manusia yang terlahir dengan derajat jauh lebih tinggi dibanding dengan makhluk yang lainnya. Namun dalam perjalanan hidupnya menjadi malas, enggan membaca, berhenti belajar karena menganggap belajar hanya di institusi formal, menunda-nunda, rakus, egois, susah bekerjasama, sibuk dengan mencari kekurangan orang lain, boros, mau menang sendiri, suka mengeluh, mudah putus asa, senang kalau melihat orang lain sengsara, sedih kalau melihat orang lain senang, merasa kurang terus, mengikuti hawa nafsu, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara termasuk ketenaran dan kekayaan, merasa pintar, mencari dan mengambil jalan pintas tanpa bersedia menjalani proses, berfikir hanya untuk jangka pendek saja. Apabila perilaku-perilaku tersebut berulang-ulang akhirnya akan menjadi kebiasaan dan apabila dikerjakan secara terus menerus akan menjadi karakter yang melekat pada diri seseorang. Hasil akhirnya adalah semakin tua kualitasnya justru semakin menurun. Apakah orang seperti itu ada?

Bayi yang sangat lemah namun memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, potensi dan kecerdasan yang siap untuk diasah dan dimanfaatkan serta dioptimalkan. Seiring bertambahnya usia, ia senantiasa mengasah kepekaan dan kepedulian kepada lingkungan dan sesamanya, menambah ilmu, berlatih, menambah wawasan, mencoba hal –hal yang baru, membantu orang lain, pantang mengeluh, bangkit dari kejatuhan, bekerjasama dengan orang lain, rendah hati, memiliki mentalitas yang berkelimpahan, melayani, amanah, pantang menunda-nunda, adil, menahan hawa nafsu, pantang menyakiti orang lain. Walaupun bisa jadi secara materiil tidak begitu menonjol tapi secara kualitas manusia semakin membaik. Semakin tenang dan bersungguh-sungguh menjalani hidup ini sebagai sarana mengumpulkan bekal yang sebanyak-banyaknya untuk perjalanan kehidupan selanjutnya. Kehadirannya senantiasa membawa kemanfaatan. Walau secara fisik semakin menurun kualitasnya namun secara ruhani semakin indah pribadinya, semakin menjadi orang besar.

DIAGNOSA

Kualitas bangsa tentu tidak terlepas dari kualitas individu rakyatnya baik sebagai rakyat maupun pemimpin. Menurut saya, dari hasil mengamati dan berpikir ada tujuh hal besar yang menjadi penyebab dan membutuhkan kerja keras untuk mengatasinya secara menyeluruh mengapa kita tidak segera “tinggal landas” seperti jargon yang sangat terkenal di era orde baru tapi justru “tinggal di landasan”, bukan hanya jalan ditempat bahkan justru mengalami kemunduran.

1. Kurang percaya diri

Mentalitas ini ditandai dengan tidak bangga pada hasil karya sendiri. Bagaimana bisa meyakinkan orang lain kalau dengan dirinya sendiri saja tidak yakin. Mudah heran dan terkagum-kagum dengan produk buatan orang lain. Sangat bangga kalau mengatakan barang yang dipakai adalah “luar punya” bukan buatan sendiri. Kurang berani tampil beda, artinya senang mengikuti tren. Saya teringat di salah satu pidato Bung Karno, beliau menyampaikan supaya kita bisa menjadi seperti burung elang, walaupun sendirian dia berani terbang mengangkasa dengan gagah berani. Jangan seperti bebek yang kesana-kemari harus selalu bersama-sama, makanya kemudian muncul istilah ”membebek” untuk menggambarkan orang yang harus selalu bersama-sama tidak berani sendirian. Yang lebih berbahaya adalah biasanya bebek-bebek tersebut ada yang menggembalakan, kesana kemari mengikuti instruksi dari penggembala. Apa jadinya bila hidup kita harus senantiasa dikendalikan oleh orang lain dan harus menunggu orang lain untuk memiliki keberanian melakukan tindakan. Kurang percaya diri ini juga akhirnya mengarah pada kecenderungan percaya kepada mistis untuk meningkatkan kepercayaan diri.

2. Tidak berpikir jangka panjang

Berpikirnya bersifat jangka pendek. Instan, cepat saji. Berpikir hanya untuk dirinya sendiri. Enggan bermimpi, enggan mencoba berkreasi, enggan menjalani proses terlebih yang bersifat jangka panjang alias malas. Enggan memikirkan dampak jangka panjang dari tindakan yang diambil sehingga tanpa disadari menghasilkan kerugian dan kerusakan tidak hanya untuk jangka pendek tapi juga jangka panjang. Ingin segera menikmati, cepat bersenang-senang, berpesta dan memiliki simbol-simbol kemewahan. Dalam sebuah riwayat diceritakan seorang bapak tua sedang menanam biji kurma, orang yang sedang lewat menertawakan, untuk apa menanam pohon sedangkan hidupnya hanya tinggal sementara dan tidak akan sempat menikmati hasilnya. Orang tua tersebut menjawab kalau saya tidak bisa menikmati, generasi selanjutnya yang akan menikmati. Apabila kita perhatikan hukum alam bercocok tanam, dari menabur biji hingga berbuah untuk siap dinikmati, tanaman membutuhkan waktu. Bahkan buah yang matang di pohon akan jauh lebih enak rasanya daripada hasil peraman, walaupun waktunya lebih cepat. Apabila diperhatikan makanan yang cepat saji seringkali gizinya pun sangat rendah bahkan dalam jangka panjang bersifat merusak. Lebih menyukai membeli daripada membuat. Lebih bangga ”konsumtif” padahal seperti yang saya baca di buku membangun karakter bank Indonesia, orang yang konsumtif adalah orang yang tidak memiliki karakter.

3. Kurang memiliki kesatuan tindakan yang penuh keberanian.

Tidak membentuk barisan yang kokoh dalam melangkah, bergerak masing-masing. Ingin menjadi pahlawan. Semua ingin menjadi pemimpin padahal ibarat pasukan pasti ada pemimpin dan yang dipimpin. Keburukan yang terorganisir akan lebih berhasil dibandingkan dengan kebaikan yang tidak terorganisir.

4. Cepat merasa puas.

Mentalitas seperti ini terlihat pada keengganan untuk melakukan perbaikan yang bersifat terus menerus baik dalam hal keilmuan maupun proses. Dalam istilah manajemen disebutkan continuous improvement, continuous learning. Adanya kecenderungan tidak mau beranjak dari comfort zone. Tidak mau menantang diri sendiri untuk menghasilkan yang lebih baik.

5. Hilangnya rasa malu.

Tidak Malu melihat orang lain sengsara. Tidak Malu melihat orang lain tertindas. Tidak Malu menerima lebih dari yang diusahakan. Tidak Malu memanfaatkan fasilitas umum untuk kepentingan sendiri. Tidak Malu kalau tidak memberikan dan melakukan yang terbaik. Tidak Malu berhutang apalagi untuk digunakan bersenang-senang.

6. Melunturnya kepekaan dan kepedulian

Apabila ada yang berpendapat bahwa masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan egois sepertinya disebabkan karena :

• Anggapan bahwa kita boleh berbagi kalau kita sudah cukup atau telah berlebihan. Sehingga ukurannya menjadi tidak jelas dan menjadi semacam excuse. Bagaimana saya mau menolong kalau diri sendiri saja masih kurang. Padahal ukuran cukup disini tidak ada ukuran yang jelas, cukup menurut si A belum tentu cukup menurut si B.
• Mentalitas berkekurangan scarsity mentalism. Merasa kurang sehingga enggan atau sayang untuk berbagi.
• Adanya anggapan bahwa dia sudah bekerja keras untuk memperjuangkan hasil yang diperolehnya sehingga menjadi teramat sayang untuk dibagikan.
• Kekhawatiran akan masa depan sehingga menimbun berlebihan supaya tidak kekurangan di masa yang akan datang.

7. Ambivalensi tradisional dan profesional

Di satu pihak kita menuntut profesionalisme, namun di pihak lain unsur tradisi masih dipegang. Seperti dalam pemberian parsel yang jumlahnya sudah tidak wajar, secara tradisi itu merupakan bentuk ucapan terimakasih dan penghormatan, namun secara profesional hal tersebut bisa dianggap ada unsur korupsinya. Atau dalam pengangkatan pemimpin yang menghormati senioritas sedangkan dalam hal kemampuan sangat tidak mendukung.

MEMBANGUN KARAKTER PROFESIONAL
Identitas sebagai seorang “profesional” merupakan identitas baru yang diinginkan melekat pada diri seseorang setelah menyelesaikan serangkaian tahap belajar. Siapakah seorang “profesional” ini? Menurut Wikipedia, seorang profesional adalah seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya. Orang tersebut juga merupakan anggota suatu entitas atau organisasi yang didirikan sesuai dengan hukum di sebuah negara atau wilayah. Meskipun begitu, seringkali seseorang yang merupakan ahli dalam suatu bidang juga disebut “profesional” dalam bidangnya meskipun bukan merupakan anggota sebuah entitas yang didirikan dengan sah. Sebagai contoh, dalam dunia olahraga terdapat olahragawan profesional yang merupakan kebalikan dari olahragawan amatir yang bukan berpartisipasi dalam sebuah turnamen/kompetisi demi uang.

Mau tahu lebih lengkapnya ????
Hadirilah Talkshownya pada hari Sabtu 07 Agustus 2010 jam 12.30 s.d 15.00 di Landmark Convention hall Jl. Braga No. 129 Bandung. Acaranya Gratis dengan registrasi peserta caranya :
Ketik : PBB # Nama # Profesi # Instansi

ke 022-76697476

Catatan : Tempat sangat terbatas.

Iklan

CHANGE YOUR DREAMS !!!


Kenapa Musti Mimpi?

Andai a … a … a … aku jadi orang kaya …
Andai a… a … nggak usah pake kerja …

— Opie Andaresta

Masih ingat dengan lagu tersebut? Lagu yang dipopulerkan Opie. Kamu juga sampe sekarang masih ingat kan, pesan dari lagu ini. Bermimpi untuk jadi orang … apa aja yang diinginkan tanpa berusaha ekstra.
Pertanyaan berikutnya, pernahkah kamu bermimpi? Sejak kapan kamu mulai bermimpi? Kenapa kita semua harus membuat dan menentukan mimpi? Juga kenapa kita menyusun beberapa hal penting dalam mimpi sehingga bisa mendapatkan kesenangan – sekaligus keabsurban — dari mimpi?
Jawabannya adalah meskipun kamu bermimpi setiap hari, kamu sering kali gagal untuk meraih dari pengalaman mimpimu. Kenapa demikian? Karena kamu nggak tahu apakah kamu sedang bermimpi atau nggak. Kebanyakan kamu nggak sadar kalo kamu sedang bermimpi. Hanya melamun dan hanya sebatas membayangkan seperti orang yang kehilangan sesuatu dan menjadi teringat-ingat terus.
Atau kamu nggak tahu apa itu mimpi? Kebanyakan orang memahami mimpi itu sebagai bunga tidur. Sebelum tidur ada beberapa kegiatan penting sehingga kegiatan tadi termemori sampe tidur. Betul juga sih, anggapan demikian.

Mimpi merupakan bagian yang paling dalam dari kehidupan. Mimpi merupakan satu kesatuan dalam diri manusia yang menggambarkan rekaman pengalaman kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, mimpi adalah sebuah imajinasi yang kuat dan dimiliki oleh hampir semua orang. Impian seseorang bisa berwujud keinginan, cita-cita, angan-angan, harapan, yang sewaktu-waktu bisa terwujud atau tidak sama sekali, tergantung orang yang memimpikannya.
Dengan mimpi, kita bisa mendapatkan segalanya tanpa batas. Believe or not, yang jelas banyak orang besar dan sukses berawal dari mimpi-mimpinya: Guttenberg, Thomas Alpa Edison, Einstein dan Isaac Newton, atau ilmuan-ilmuan lainnya yang namanya sampe sekarang di kenang orang sejagat.
Akan tetapi, jangan heran ketika kita menyaksikan begitu banyak orang yang sukses atau gagal dalam menggapai impiannya, bahkan tidak sedikit orang menderita karena mimpinya tidak “terbeli”. Padahal, semua orang punya potensi untuk meraih mimpinya.
Potensi penting yang perlu dimanfaatkan adalah kemampuan nalar (otak) karena berawal dari otak yang kurang dimanfaatkan secara maksimallah orang menjadi mandul untuk maju, kreativitasnya nggak berkembang, dan ujung-ujung kebingungan, mesti bagaimana memanfaatkan potensi yang dimilikinya itu.
Buku ini mengupas bagaimana mewujudkan impian agar tidak hanya menjadi angan-angan. Mulai dari me-manage potensi, mengubah mindset, dan mengelola keinginan, serta memanfaatkan waktu. Dengan demikian, buku ini penting dibaca oleh mereka yang masih punya keyakinan bahwa masa lalu adalah pengalaman, masa kini adalah kesempatan, dan masa yang akan datang adalah kesuksesan.
Mudah-mudahan kehadiran buku ini bisa mengantarkan Anda menjadi orang-orang yang mampu meraih impian sehingga dapat digolongkan dalam kelompok manusia sukses dan menjadi kebanggaan setiap orang yang mengenal Anda.
Semoga Sukses.

Namun, maksud dari mimpi di sini adalah sebuah imajinasi yang kuat, yang harus terwujud di kemudian hari. Bisa jadi mimpi itu keinginan, cita-cita, angan-angan, atau harapan. Terkadang pula, mimpi inipun terbawa ke alam bawah sadarmu atau mimpi ketika tidur.
David Fontana (1997) menerjemahkan mimpi sebagai peluang untuk mengetahui percakapan antara ketidaksadaran dengan pikiran yang sadar, menyusun peluang-peluang untuk memahami diri lebih baik dan mencapai keserasian yang paling dalam.
Kalo ditelisik lebih jauh, antara maksud mimpi yang pertama dan kedua (yang diterjemahkan David Fontana) nggak ada bedanya. Dengan mimpi, berarti kamu akan atau telah menyusun peluang untuk mencapai keserasian. Maksud dari keseraian ialah menyesuaikan mimpi yang kamu buat dengan kemampuanmu.
Sangat seru rupanya ngomongin mimpi ini. Buktinya aja, kurang lebih 50 tahun lamanya, para ahli telah mengamati mimpi sampe lebih detail. Ada beberapa penelitian ilmiah mengenai mimpi.
Diawali dari sebuah penelitian ilmuwan Amerika, Nathaniel Kleitman dan Eugene Aserinsky yang mengamati para sukarelawan yang terbangun, sementara otaknya memperlihatkan irama-irama khusus yang memberitahukan mereka telah bermimpi.
Kemudian William Dement, seorang psikolog yang meneliti di Universitas Chicago, telah menemukan sebuah gejala baru sehingga bisa membentuk ilmu baru dengan melakukan penelitian terhadap mimpi. Dia mendeteksi jaringan antara isi mimpi dan kondisi psikologi seseorang yang sedang bermimpi. Dengan penuh keyakinan, ia memperlihatkan bagaimana banyak orang yang nggak puas dengan mimpinya.
Ternyata dari beberapa penelitian yang serupa, ditemukan bahwa kamu sering mengingat sekitar 80 persen dari setiap bagian mimpi jika kamu menyelesaikan mimpimu. Namun, 8 menit kemudian hal itu berubah, berkurang 30 persen. Sampe akhirnya kamu hanya bisa mengingat mimpimu sekitar 5 persen aja.
Sekarang penelitiannya lebih difokuskan pada jarak yang luas dari faktor-faktor yang berkaitan dengan mimpi, termasuk pengaruh kejadian-kejadian sebelum tidur. Sebuah kekuatan kreativitas dalam mimpi itu sangat berpengaruh dalam hidup, dan setiap bagian dalam mimpi — baik itu bayi, orang dewasa sampe seekor binatang pun — berdampak pada perkembangan dirinya. Sampe sekarang, pemahaman mimpi ini menjadi bidang yang serius digeluti dan terus diteliti.
Emang sih, mimpi merupakan bagian yang paling dalam dari semua kehidupan. Mimpi merupakan salah satu kesatuan dalam diri manusia yang memberikan banyak contoh sehingga tanpa curiga dan ragu-ragu kamu bisa mewujudkan pengalamanmu yang terekam dalam mimpi.
Sejarah mencatat, beberapa nenek moyang manusia meyakini mimpi sebagai suatu kekuatan dalam memecahkan masalah. Makanya, jangan heran kalo secara nggak langsung, mimpi membawa para prajurit yang gagah dan kompeten untuk bertempur memusnahkan musuh-musuhnya, menyulap kenistaan atau kebohongan menjadi sebuah kenyataan yang sulit diyakini oleh akal. Mimpi juga bisa memprediksi masa depan, meringankan rasa sakit, dan membawa semangat.
Nenek moyang bangsa Yunani menyakini pengetahuan akan mimpi sangat njelimet dan memusingkan, seperti halnya pengetahuan dalam beberapa bidang.
Plato, misalnya, mengamati Freud ketika dia menjelaskan bahwa mimpi ditempatkan di mana rasa kebinatangan seseorang tumbuh dengan merajalela kecuali jika jiwa yang membangun mimpi mampu untuk menggantikan naluri-naluri yang beralasan.
Sedangkan Aristoteles menyatakan wawasan yang didapat dari mimpi seperti objek-objek yang terpantulkan dari air.
Ketika air diam, bentuk-bentuknya mudah untuk dilihat. Namun ketika airnya bergerak, yaitu ketika pikiran secara emosional terganggu, maknanya berubah dan nggak bermakna. Lebih tepatnya, pikiran bisa dijaga sebelum tidur, sedangkan sesudah tidur jangan ditanya lagi.
Rene Descartes, seorang filsuf asal Perancis yang disebut-sebut sebagai pendiri ilmu modern, meyakini dalam kerangka pikiran untuk memaknai mimpi. Menurut pengakuannya, beberapa teori ditemukan dalam mimpi, dan dia berjuang untuk menemukan kejelasan segala sesuatu bukti yang muncul dalam pikiran itu sangat benar.
Banyak teknik untuk meraih sampe memengaruhi hasil sebuah mimpi. Mulai dari kebijakan atau teori-teori yang diajarkan manusia masa lalu, sampe hasil dari sebuah penelitian ilmu modern.
Ketahuilah, aku sangat menyadarinya kalo semua orang memiliki mimpi dan terbiasa memimpikan sesuatu yang besar dan lebih besar lagi. Oleh karenanya, aku berharap kamu bisa menentukan mimpimu sekarang? Dan seterusnya kulepaskan biar kamu terjun bebas di alam mimpi. So, bermimpilah!

AGAR HIDUP LEBIH HIDUP


Setiap orang mendambakan bahagia. Mengapa ? karena, bahagia bisa bikin hidup kita lebih hidup, hidup lebih bermakna. dan karenanya hidup menjadi lebih bergairah. Namun bahagia sepertinya susah didapat. apapun dilakukan, dan segala cara dihalalkan asalkan bahagia. Alih-alih mendapat bahagia, yang ada malah sengsara.

Buku ini berkenaan dengan masalah pengembangan diri berdasarkan al-quran dan hadis nabi untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. bahasa dalam bukBahasa dalam buku ini ringkas dan enak untuk dibaca.

Info hubungi : 022-76697476 ( dody )

%d blogger menyukai ini: