WAKAF PRODUKTIF


Bagaimana Wakaf agar produktif ?

Wakaf didayagunakan dan hasilnya yang disedekahkan. ”Keabadian” atau ”kekekalan” benda wakaf harus senantiasa terjaga; oleh karena itu, dalam wakaf uang, uang yang diwakafkan harus dijadikan modal (ra’s al-mal); yang diterima oleh pihak-pihak yang berhak adalah hasilnya; hasil usaha yang modalnya berasal dari benda wakaf.

Dibandingkan dengan peraturan perundang-undangan sebelumnya, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 memiliki kelebihan karena mengatur peruntukan wakaf secara eksplisit. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwaakafan Tanah Milik ditetapkan bahwa fungsi wakaf adalah mengekalkan manfaat benda wakaf sesuai dengan tujuan wakaf. Ketentuan yang persis sama juga terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam.
Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 ditetapkan bahwa dalam rangka mencapai tujuan dan funngsi wakaf, harta benda wakaf hanya dapat diperuntukan bagi:
1. Sarana dan kegiatan ibadah.
2. Sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan.
3. Bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar,yatim piatu, bea siswa.
4. Kemajuan dan peningkatan ekonomi umat.
5. Kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan.
Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 diatur mengenai waktu dan pihak yang dapat menentukan peruntukan benda wakaf. Pertama, pihak yang berhak menentukan peruntukan benda wakaf adalah nazhir pada saat ikrar pelaksanaan wakaf di hadapan Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf; dan kedua, nazhir dapat menetapkan peruntukan harta benda wakaf yang dilakukan sesuai dengan tujuan dan fungsi wakaf apabila wakif tidak menentukan peruntukan benda wakaf.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 ditetapkan mengenai kewajiban-kewajiban nazhir. Ketentuan-ketentuan tersebut pada dasarnya merupakan penguatan terhadap ketentuan yang telah ada dalam Undang-Undang Wakaf. Dalam Peraturan Pemerintah ditetapkan bahwa: pertama, nazhir berkewajiban mengadministrasikan, mengelola, mengembangkan, mengawasi, dan melindungi harta benda wakaf; dan kedua, nazhir berkewajiban membuat laporan secara berkala kepada Menteri Agama dan Badan Wakaf Indonesia mengenai kegiatan yang berkaitan dengan kewajiban-kewajibannya sebagai nazhir (mengadministrasikan, mengelola, mengembangkan, mengawasi, dan melindungi harta benda wakaf).
Kewajiban nazhir juga diulangi (ditegaskan ualang) dalam Bab V (Pengelolaan dan Pengmbangan) Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006. Dalam bab tersebut ditetapkan bahwa: pertama, nazhir wajib mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan peruntukan yang tercantum dalam Akta Ikrar Wakaf; dan kedua, nazhir dibolehkan bekerjasama (sesuai dengan prinsip syari‘ah) dengan pihak lain dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf untuk memajukan kesejahteraan umum.
Dalam Peraturan Pemerintah juga ditetapkan mengenai pengelolaan benda wakaf yang berasal dari warga atau organisasi asing. Pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf dari perorangan warga negara asing, organisasi asing, dan (atau, pen) badan hukum asing yang berskala nasional dan internasional, serta harta benda wakaf yang terlantar, dilakukan oleh Badan Wakaf Indonesia. Di samping itu, pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf harus berpedoman pada peraturan Badan Wakaf Indonesia.
Dalam Penjelesan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 ditetapkan bahwa pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf dilakukan secara produktif antara lain dengan cara pengumpulan, investasi, penanaman modal, produksi, kemitraan, perdagangan, agrobisnis, pertambangan, perindustrian, pengembangan teknologi, pembangunan gedung, apartemen, rumah susun, pasar swalayan, peretokoan, perkantoran, sarana pendidikan ataupun sarana kesehatan dan usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan syariah.
Pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf uang dilakukan dengan: pertama, benda wakaf uang hanya dapat dilakukan melalui investasi pada produk-produk Lembaga Keuangan Syari‘ah atau instrument keuangan syariah; kedua, nazhir hanya dapat mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf uang pada Lembaga Keuangan Syari‘ah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) dalam jangka waktu tertentu apabila Lembaga Keuangan Syari‘ah Penerima Wakaf Uang menerima wakaf uang untuk jangka waktu tertentu; ketiga, pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf uang yang dilakukan pada bank syariah harus mengikuti program lembaga penjamin simpanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan keempat, pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf uang yang dilakukan dalam bentuk investasi di luar bank harus diasuransikan pada asuransi syariah.

pengelolaan tanah wakaf yang memiliki dua kegiatan: 1) kegiatan pokok; dan 2) kegiatan penunjang. Menurut hasil penelitian Rachmat Djatnika dan kawan-kawan (tahun 1999-2000), tanah wakaf di Bandung Jawa Barat yang pengelolaannya agak profesional disederhakan menjadi tiga model kegiatan pokok; 1) lembaga pendidikan; 2) masjid; dan 3) layanan kesehatan. Di samping itu, hasil penelitian Djatnika dan kawan-kawan juga dilengkapi dengan informasi yang didapat mengenai pendayagunaan wakaf yang termasuk terbaik di Asia Tenggara, yaitu wakaf di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Hasil Penelitian Djatnika diurai ulang secara ringkas setelah penjelasan pendayagunaan wakaf di Pondok Modern Gontor.

1. Pondok Modern Darussalam Gontor
Salah satu lembaga pendidikan tertua dan konsisten menjalankan fungsi utamanya dalam menyiapkan kader ilmuan muslim adalah Pondok Pesantren Gontor. Alumninya tersebar di mana-mana dan banyak yang sudah menjadi ulama (kyai), pemimpin organisasi masa Islam, politisi, akademisi, pengusaha, dan yang lainnya. Oleh karena itu, wajar jika pondok Modern Darusslaam Gontor dianggap sebagai selah satu pesantren yang terbaik dalam mengelola harta wakaf.
Wakaf adalah salah satu instrumen yang memberikan kontrubusi besar bagi kelangsungan pendidikan agama (keagamaan) bagi pondok Modern Darusslaam Gontor, terutama wakaf tanah yang luas dan tersebar di berbagai tempat.
Tanah wakaf di Gontor yang dikelola oleh pihak Pesantren memiliki dua jenis pendayagunaan: 1) pendayagunaan pokok; dan 2) pendayagunaan penunjang/pengembangan. Sebagai pesantren, kegiatan utamanya adalah menyelenggarakan pendidikan Islam dari tingkat yang paling rendah (dasar) hingga pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi). Sedangkan kegiatan pengembangan antara lain berupa kegiatan ekonomi/bisnis yang hasilnya didayagunakan untuk kemajuan pesantren tersebut.

Dalam rangka menjaga harta wakaf secara seimbang dengan pemanfaatan atau pendayagunannya, maka akta ikrar wakaf yang mencantumkan peruntukan wakaf tidak ditulis secara kaku. Peruntukan wakaf dapat disertai dengan kata/kalimat lain yang membuat pengelolaan wakaf berjalan secara dinamis. Tentu saja, yang berperan adalah Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW). Misalnya, dalam kolom peruntukan ditulis: ”untuk mendirikan masjid dan fasilitas pendukungnya;” ”untuk penyelenggaraan pendidikan Islam dan fasilitas pendukungnya; atau ”untuk pelayanan kesehatan/rumah sakit serta fasilitas pendukungnya.
Hasil penelitian Djatnika dan kawan-kawan menunjukan bahwa wakaf yang cenderung produktif karena dalam pengelolaan wakaf terdapat: 1) peruntukan yang pokok (mondial); dan 2) peruntukan yang bersifat pendukung atau sertaan; seperti wakaf untuk layanan kesehatan, maka didirikanlah Rumah Sakit al-Islam Bandung; sebagai pelengkapnya, rumah sakit tersebut menyelenggarakan pendidikan yang berkenaan dengan kesehatan, seperti manajemen rumah sakit, dan lain-lain.

Mau tahu lebih banyak lagi ????

Baca Bukunya : Wakaf Produktif

Harga : 50.000

Buku dapat diperoleh di : Gramedia, Gunung agung, Kurnia agung, Lubuk agung, BBC Group, Togamas dan toko-toko buku terdekat di kota anda.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: