AL-QURANKU KEREEN ( BUKU REMAJA )


REFLEKSI
SERI AL-QURANKU KEREN
Karya Bambang Q-Anees

SK DIRJEN PENDIS NO.D.J.I/375/2009

Sebagai buku pengayaan akhlak dan Aqidah bagi pelajar mulai SD s/d SMA

Tersedia di Gramedia, Gunung Agung, BBC Palasari, Togamas, Paung Bona,Kurnia Agung dan toko-toko buku terdekat di kota anda.

Buku Seri Al-Quranku Keren adalah buku yang menawarkan cara pembacaan Al-Quran secara lebih santai, menggunakan bahasa remaja, dialogis, dan menggunakan model. Memang buku ini mirip dengan sebuah novel, memiliki tokoh utama (Hagia) yang berguru mengaji pada seorang ustadz (Pak Mursyid). Hagia adalah anak SMA biasa, tidak memiliki kehebatan kecuali kemauannya untuk terus bertanya dan gigih pulang pergi ke rumah gurunya itu. Dalam kisah ini, Hagia adalah murid tunggal dari Pak Mursyid.

Cara penceritaan Pak Mursyid dalam buku Seri Al-Quranku Keren ini dapt menjadi model cara pendidikan karakter (akhlak) berbasis Al-Quran. Pak Mursyid, dalam buku ini, diceritakan sebagai orang yang sabar, penuh senyum, dan tidak memaksakan pendapatnya. Kadangkala Hagia dibiarkan berpikir liar dalam memahami Al-Quran, namun secara perlahan, Pak Mursyid membimbingnya sampai Hagia tersadar akan kesalahannya sendiri dan berniat mengubah perilakunya secara sukarela.

AL-INSYIRAH

 SURAT KELUHAN DARI TEMAN

Hagia menatap surat itu. Nggak percaya. Hagia bahkan mencubit-cubit tangannya, siapa tahu semua ini hanya mimpi. “Auh !” ia merasa sakit. Bukan mimpi rupanya. Ini nyata, gadis yang sering satu angkot dengannya yang mengirim surat ini. Wah…ini sih bukan kejatuhan rembulan lagi namanya, tapi kejatuhan matahari.

“Maukah kau menjadi temanku ? Maukah kau mendengarkan keluhanku, aku benar-benar tertekan. Ada banyak yang ingin aku muntahkan sebelum semuanya berantakan. Please, kamulah satu-satunya harapan.” Demikian sebagian isi surat itu.

Siapakah gadis yang berkirim surat itu ? Masalah apakah yang sedang dihadapinya ? Bisakah Hagia membantunya memecahkan masalahnya itu ? Mengapa Pak Mursyid menyuruh Hagia membaca Surat Al Insyirah ketika ia mengeluhkan masalah Surat itu ? Temukan jawabannya pada Buku Seri Al Quranku Keren Al Insyirah ini.

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini :

• Kemarahan, kesusahan, kegagalan, dan keburukan lainnya bermula dari cara pandang yang salah, perbaiki cara pandang maka semuanya akan berubah
• Yakinlah pada cara pandang Al-Quran bahwa Allah menawarkan 2 kemudahan bagi setiap kesusahan yang telah dihadapi dengan sabar dan syukur.
• Kegagalan atau kesusahan disebabkan beban pikiran/pekerjaan yang terlalu menumpuk.
• Yakinlah pada cara pandang Al-Quran, kerjakan segala sesuatu secara bertahap, jangan memikirkan pekerjaan yang akan datang bila pekerjaan yang ada dihadapan belum selesai.
• Hasil dari setiap usaha (mendapat pujian atau cercaan) bergantung pada cara kita memasrahkan seluruh pekerjaan pada Tuhan.

Komentar Pembaca :

• “Ya ampun…gak nyangka banget ternyata isi Al Quran bisa dijadiin cerita yang seru banget. Bahasanya yang ringan pas banget dibaca bwat remaja, trus banyak banget deh contoh kehidupan sehari-hari yang bisa qta dapetin dari buku ini.” (Biadara, Kelas 9D SMPN 28 Bandung)
• “Subhanallah… buku ini bener-bener bagus. TOP BGT. Bikin kita ngerti makna dari setiap ayat Al-Insyirah. Bener-bener keren!”(Nithy, KElas 3 IPS-1, SMAN 20 Bandung)
• Ceritanya, gaya bahasanya, dan isinya bener-bener nyentuh kalbu gw. Pokonya buku ini gw banget deh!! Sukses dah buat buku ini.” (Esa Mahira, Kelas XI IPA-4 SMAT Krida Nusantara Bandung)
• “Ternyata kita bisa belajar banyak banget dari hanya sebagian kecil ayat-ayat Al Quran! Buku ini cool abiz! Bahasanya ringan en gak bikin pusing… Pokonya salut deh buat penulisnya!!” (Reni Armanita, Kelas X-9 SMAN 3 Bandung)
• “Its fresh! I learnt another important thing ‘bout dealing with this life. Ringan tapi meaningful. Buku ini ibarat nyomblangin kita ama Al-Quran, karena kita diliatin bahwa Al-Quran tuh deket n sayang banget ama kita.” (Uphie, SR ITB 2005 Bandung)

AN-NAS

ADA SISWA SMA KESURUPAN

Hagia menghentikan wudunya, bulu kuduknya mendadak merinding. Dua hari yang lalu, di sekolahnya ada peristiwa heboh. Anak-anak perempuan menjerit-jerit, meronta-ronta, mengeluarkan sumpah serapah. Saat itu ia berkomentar iseng, kegenitan banget sih tu cewek, tapi ternyata yang terjadi bukanlah kegenitan. Anak-anak perempuan jadi nggak terkendali, mereka yang meronta-ronta nggak bisa lagi dikendalikan.
Mereka….”KESURUPAN…!!!” Entah siapa yang memulai teriakan itu, namun teriakan itu membuat semua orang jadi menyadari apa yang sedang terjadi…rasa takut semakin menjalar ke tengkuk semua siswa.

“Kenapa ada orang yang kesurupan?” “Apakah memang kesurupan itu ada?” tanya Hagia kepada Pak Mursyid.

Kenapa ada orang yang kesurupan? Apakah memang kesurupan itu ada? Apa yang bisa menyebabkan orang kesurupan? Simak ulasannya dalam buku ini!

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini :

• Pada diri manusia ada dorongan untuk menyerah sebelum berusaha, mengalah sebelum mencoba, malu, dst; yang dapat diungkit dengan keyakinan bahwa Allah punya rencana besar atas penciptaan setiap individu.
• Kesurupan terjadi karena kita menginginkannya, yaitu dengan meletakkan diri lebih rendah daripada jin dan setan.
• Tak ada yang bisa mengganggu kita (baik jin atau manusia) kecuali kita memberinya peluang untuk mengganggu.

Komentar Pembaca :

• “Buku ini bagus banget, soalnya isinya berguna dan bikin saya lebih ngerti tentang Surat An-Nas yang maknanya ternyata dalem banget!!” (Aqmarina Septiani, Kelas 9 A SMPN 7, Bandung)
• “Subhanallah, bagus. Ternyata satu surat saja bisa membahas lebih dalam. Cara penyajiannya pun dengan bentuk dialog, bagus sekali!” (Iman Kurniawan, KElas XII Agama/ Ketua Rohis MAN I 2 Bandung)
• “Buku in bagus banget. Buku ini bikin saya berusaha untuk bener-bener berlindung dar syarr, juga bikin saya heran, ternyata di balik surat An-Nas, ada isi yang sangat penting banget. Pokoknya buku ini keren!” (Dini Lestari,Mega Rahmawati Kelas XI IPA 7, SMAN 3 Bandung)
• ”AN-NAS, surat pendek yang pastinya sering hadir dalam salat-salat kita, dari anak kecil ampe orang tua. Tapi mungkin banyak yang belum tau kekuatan dahsyat apa yang terkandung di dalamnya. Ternyata maknanya nggak sesederhana terjemahannya. Makanya, baca aja buku ini!” (RIZKI, Farmasi ITB, 2003 Bandung)
• “Awal Al-Quran telah menyatakan bahwa dia tidak boleh diragukan (Al-BAqarah : 2). Akhir Al-Quran menuntut kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari sikap was-was (ragu-ragu) (An-Nas:4). Uraian An-Nas dalam berbagai kajian sangat langka. Karena itu buku ini sangat penting untuk kita, terutama untuk remaja Islam. Silahkan pelajari!” (BAHRUL HAYAT, Guru Agama Islam MAN I Bandung, Pembina Gabungan Remaja Islam (GARIS) Bandung-

AL-‘ALAQ

GENERASI NOL BUKU

Hei…ternyata Indonesia pada tahun 1943-2005 memiliki prestasi nggak tertandingi : NOL BUKU. Anak-anak sekolah di negeri ini nggak pernah baca buku? Padahal pada saat sebelumnya, pada saat negeri ini masih dijajah Belanda siswa-siswa SMA diwajibkan baca buku antara 15-25 buk setiap tahunnya.
“Bagaimana , apakah kamu juga berada di “Nol Buku” itu, Tanya Pak Mursyid.
Hagia nggak menjawab, kepalanya mengangguk. Diam-diam ia merenung. Sebenarnya sih nggak nol buku. Tapi, kalau dihitung antara waktu membaca dan menonton pastilah lebih banyak menonton atau main Play Station.
“Inilah kelalaian umat Islam yang paling besar,” seru Pak Mursyid, “kita kehilangan modal terbesar. Kamu tahu anakku, membaca adalah modal utama orang beriman. Begitu umat Islam malas membaca, maka keimanannya menjadi kacau balau, mudah diadu domba dan dikorbankan. Sekali lagi, kelalaian kita yang terutama adalah melupakan kewajiban membaca!”
Simak terus uraian Pak Mursyid mengenai kewajiban membaca ini di buku Al-Alaq ini.

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini :

• Membaca adalah menghimpun makna, menggabungkan seluruh pengetahuan dan pengalaman untuk mendapatkan pemahaman baru dari apa pun yang dibaca. Objek yang dibaca bukan hanya buku, melainkan kehidupan.
• Membaca adalah menghubungkan diri dengan seluruh alam semesta dan Tuhan.
• Membaca adalah meyakini bahwa semua yang ada berasal dari hal yang sederhana.
• Membaca merupakan syarat awal kebaikan dan perbaikan karakter.

Komentar Pembaca :

• “Bahasanya mudah dimengerti dan ceritanya perfect banget. Bener-bener nyentuh kalbu gw. Sukses dech buat buku ini. Selamat untuk penulisnya, semoga terus berkarya dan menghasilkan buku-buku bermutu.“(Egi Mahira Irham, Kelas VIII A, SMP Taruna Bakti Bandung)
• “Isinya berbobot yang dkemas dalam bahasa simple dan interaktif merupakan nilai tambah bagi buku ini. Buku yang menarik di zaman sekarang, memberikan andil yang besar untuk meningkatkan semangat membaca bagi remaja!” (Ari Sanjaya, Kelas XI IPS, SMAN 3 Bandung)
• “Buku ini membangkitkan semangat membaca, bikin kita ngeh ama pentingnya membaca. Diulas berdasarkan sudut pandang islam, jadi nambah pengetahuan n beda!” (Alia Nur Dwirahmani, Kelas XF, SMAN 70 Jakarta).
• “Wow…sangat menarik! Buku ini membahas Surat Al-Alaq dengan cara yang unik! Sederhana, dengan gaya bahasa yang khas, tapi juga sarat makna dan tepat sasaran! Saya bener-bener nggak nyangka kalo ‘membaca’ adalah kegiatan menyenangkan yang tak terbatas ruang dan waktu! Sudah saatnya kita bangun dan mencetak sejarah baru tentang kejayaan Islam.” (Susan, Fakultas Kedokteran UNISBA, 2006)

Metode dialog adalah metode yang kerap digunakan Pak Mursyid. Dengan keterampilannya untuk mendengarkan apapun komentar Hagia (kadang-kadang Hagia mengaitkan makna Al-Quran dengan pengalaman hidup atau pengalaman bacanya, bahkan dengan kondisi teman perempuan Hagia, yaitu Sophia). Pak Mursyid kadang-kadang mau berlama-lama mendengarkan apa pun pendapat Hagia, apapun komentar Hagia, lalu dengan sabar ia menunjukkan kesalahan berpikir muridnya itu seraya mengantarkannya pada pola berpikir atau prinsip nilai Al-Quran.

Serial ini telah terbit dalam 10 jilid, masing-masing jilid mengemukakan satu nama surat. Kesepuluh jilid itu adalah :

AL-‘ASHR

JAGALAH WAKTU LUANGMU !

Besok Sophia ulang tahun. Hagia tiba-tiba gelisah memikirkan apa yang harus diberikan pada Sophia sebagai hadiah ultah.
Iseng-iseng Hagia memencet tombol televisi,…sampai pada sebuah channel yang menayangkan gambar seorang remaja di tengah lingkaran jam, kuis. Hagia menghentikan pencarian channel televisi. Ia ingin melihat kuis itu. Jarum kecil pada jam berputar, peserta mencoba menjawab pertanyaan demi pertanyaan. “Apakah yang ketika kamu mendapatkannya, kamu sebenarnya kehilangan dia ?” tanya pembawa acara kuis. “Pass” kata anak itu tidak bisa menjawab..
“Apakah yang kamu mendapatkannya, kamu sebenarnya kehilangan dia, adalah umur atau waktu”, jelas pembawa acara kuis pada akhir acara.
“Waktu memang seperti itu, misterius!” kata Pak Mursyid. “Maksudnya gimana, pak? Tanya Hagia. Temukan jawabannya di buku ini !

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini:

• Bila semuanya sudah terlambat, kita akan menyesal dan sesal itu tak bisa memperbaiki lagi apa yang sudah berlalu.
• Isilah waktu dengan pekerjaan yang penting dan urgent.
• Orang yang terus-menerus saling sabar dan menyebarkan kebenaran akan mendapatkan waktu yang luang (seberapapun sempitnya waktu yang dimiliki)
• Manusia adalah makhluk yang terus menerus berubah, manusia akan berubah menjadi merugi, kecuali terus memelihara iaman dan beramal saleh.

Komentar Pembaca :

• “Wah … salut deh bwat buku ini !! Emang bener, setiap surat, bahkan setiap ayat, ternyata memiliki seribu makna yang luar biasa. Pokoknya aq ngerasa banyaaakk…banget manfaat yang aq dapetin setelah baca buku ini. Ditunggu ya…buku yang ngebahas surat-surat lainnya!! (Laila Amalina, Kelas 8B SMPN 14, Bandung)
• “Buku ini keren banget…Buku ini bikin kita sadar bahwa waktu itu penting ‘n sering banget kita sia-siain” (Dini Lestari, Kelas X-1, SMAN 5 Bandung)
• “Dari buku ini, saya tau kalo hidup kita ini digambarkan seperti lilin, yang lama kelamaan pasti bakal habis. Dan kita diajarkan untuk tidak membuang –buang waktu untuk hal-hal yang sia-sia. Wajib deh baca buku ini!” (Raya, Kelas XI IPA 7, SMAN 2 Bandung)
• “Salut buat penulisnya. Jadi gampang en mudah ngerti apa yang disampaikan dalam Al Quran. Kita jadi makin seneng en bangga ama Al Quran kita. Emang Al Quran itu sumber segala ilmu!” (Bana, Kelas X IPS, Al Istiqomah, Sukabumi)
• “Pokoknya amazing!! Wajib deh baca buku ini, karena banyak pelajaran yang bisa diambil. Nggak Cuma hafal Al ‘Ashr aja, tapi juga tau makna dan cara mengamalkannya. Kita jadi ngerti bahwa setiap detik yang dilewati oleh seorang muslim untuk hal yang baik itu sebenarnya adalah kebajikan.” (M. Ekazakki Kurnia, Kelas XII IPS 2, SMAN 23, Bandung)
• “AJAIB! That’z my first sight ‘bout thiz book! Mulai dari prolognya dan kerasa hebatnya buku Al ‘Ashr ini. Esensinya jelas banget! 2 izi 2 understand, anak kecil juga ngerti.” (Jepf. Biologi, STIH ITB 2005, Bandung)

AL-FALAQ

KETIKA BENCANA MENGGUNCANGMU !

Hagia sedang menonton TV. Ia melihat jalanan aspal yang retak, bangunan runtuh, beberapa candi retak, dan orang-orang yang menangis menemukan sanak saudaranya yang meninggal dunia. Bahkan ada anak kecil yang luka-luka dan kedinginan nggak terawat. Iihhh serem….pikir Hagia.

Hagia merinding membayangkan dirinya terkena bencana seperti itu. Ia masih tidur, dan tiba-tiba saja bumi bergoyang lalu rumah runtuh menimpa tubuhnya yang masih lelap tertidur. Hii… pasti seluruh tubuh akan patah, berdarah, dan luka yang menyakitkan.”Kenapa ada bencana yaa…?” tiba-tiba Hagia menggumamkan pertanyaan ini. “Kenapa Tuhan membiarkan ada bencana?” Hagia bertekad akan menanyakan masalah ini pada Pak Mursyid sore ini.

Kenapa ada bencana? Kenapa Tuhan membiarkan ada bencana? Simak jawabannya di buku ini!

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini:

• Walaupun dunia ini dipenuhi bahaya dan penyakit, namun Tuhan memberikan cara-cara dan peralatan pada manusia untuk bisa menghadapinya.
• Bahaya dan penyakit terutama berasal dari hati yang iri dengki dan ketakutan. Begitu kita takut, maka kejahatan dan penyakit dari luar diri akan menguasai diri kita.
• Keinginan orang untuk memecahkan persahabatan berasal dari kedengkian dan akan berakhir bila dibalas dengan kasih sayang.

Komentar Pembaca :

• “Awalnya waktu baca buku ini, aku merasa kesindir sekali, soalnya aku memang penakut (sama seperti Hagia). Tapi ternyata setelah selesai aku baca buku ini, aku yakin aku nggak perlu takut lagi karena Allah yang Maha Memberi Perlndungan. Beruntung aku bisa baca buku sebagus ini, semoga bukan hanya untuk aku!” (Fakhrul Raz Kelas 8-4, SMPN 11, Bandung)
• “Bersama buku ini kita belajar untuk tdak menjad penakut dan kalah oleh rasa takut, dan juga kita harus percaya akan kebesaran Allah!” (Sholikhun Musyafa, Kelas x IPS, SMA Al-Ma’soem )
• “Abis baca uraian Al-Falaq ini, aku baru ngerti bahwa bwat ngelindungin diri, surat in bukan cumin buat sekadar dihafal n dibaca aja, tapi ternyata juga mesti dimengerti trus diterapin dalam sikap n langkahku sehari-hari. Buku ini bener-bener ngasih pencerahan bwatku. Aku akan tunggu semua seri buku ini sampe lengkap bwat penuntun langkahku” (Rahma Widya, Kelas XI IPA, SMA Pribadi 5 Bandung)
• Buku ini membuat qta lebih memahami Al-Quran, bukan hanya artinya saja, tapi jadi lebih tau makna dan tujuan diturunkannya surat tersebut. Rugi banget buat temen-temen yang belum baca buku ini.” (Bubun Hidayat, Jurusan KEuangan & Perpajakan 2004, LPKIA Bandung)
• “Subhanallah, luar biasa tulisan-tulisan dalam buku ini mampu memberikan inspirasi bagaikan oase saat kita kehausan di gurun pasir yang sangat panas, khususnya bagi remaja, untuk menghadapi hidup ini dengan tenang, semangat, optimistis, sehingga hidup lebih bermakna, indah untuk dijalani dalam rida ilahi. Jadi, baca buku ini sangat disarankan! SElamat membaca!” (ISNEN MUNANDAR, S.Pdi, Guru Agama SMP-SMA Al-Ma’soem Rancaekek-Jatinangor)/

ADH-DHUHA

KULDESAK, Judul Kehidupan Remaja.

“Pernah dengar kata “Kuldesak” ? tanya Pak Mursyid pada Hagia. “Itu sih judul film”, pak !” ujar Hagia. “Tidak juga, kuldesak adalah judul kehidupan remaja. Kuldesak itu “jalan buntu”. Kamu berjalan di sebuah lorong panjang dan gelap. Di ujung sana ada seberkas cahaya, kamu selusuri jalan itu karena ada harapan bahwa lorong itu akan mengantar kamu keluar dari lorong gelap. Tapi setelah sampai pada ujung lorong, kamu menemukan jalan buntu. Tak ada jalan keluar. Cahaya itu ternyata dari lampu neon yang dipasang di dinding lorong. Kamu tertipu dan merasa sia-sia. Mau balik lagi, kamu sudah cape. Untuk meneruskan perjalanpun, kamu merasa tak berdaya, harus kemana lagi ?” ujar Pak Mursyid. “Apa kehidupan remaja seseram itu, Pak ?” tanya Hagia. “Ya”, jawab Pak Mursyid singkat.

Apakah jawaban singkat itu memuaskan Hagia ? Tentu saja tidak. Hagia akan meminta Pak Mursyid menjelaskan segalanya tentang “Kuldesak” termasuk bagaimana jalan keluarnya.

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini :

• Setiap individu terkait (berhutang budi atau membutuhkan) dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.
• Tidak semua kesusahan adalah hukuman, kesusahan adalah kesempatan kita untuk menyalurkan manfaat kepada yang membutuhkan.
• Memberikan bantuan kepada orang lain akan menghasilkan rasa percaya diri dan sikap optimis.
• Berilah bantuan kepada orang lain, namun katakan padanya, ”Balasan atas bantuan ini jangan berikan kepada saya, berikan pada 2 orang lain dan begitu seterusnya.”

Komentar Pembaca :

• “Subhanallah, saya belum pernah baca buku yang bener-bener ngebahas tentang ayat Quran, apalagi untuk remaja pula. Insya Allah abis baca buku ini saya akan lebih inget lagi ama Yang Maha Kuasa.” (Aldita, Kelas 3 H SMPN 7 Depok)
• “BACAANNYA GUE BANGET!! Seperti bercermin karena sering ngerasa kayak gitu. Trus kita juga bisa tau makna Surat Adh Dhuha. Pokoknya, buku ini top en bagus banget dech!” (Zi-a, kelas 7A SMPN 13 Bandung)
• “Buku ini menarik dan cocok untuk remaja. Isi dari buku ini juga cukup berbobot dan berhasil dikemas dengan bahasa remaja.” (Rudiharto, kelas 1B SMA Plus Muthahhari Bandung)
• “Terus terang aja, setelah saya baca buku ini, saya jadi ngerti akan pentingnya makna Surat Adh Dhuha. Karena penulisnya ngebahas dengan cara yang “BEDA BANGET” deh!” (Fajar, kelas 3 IPS I SMAN 1 Bandung)
• ”Ternyata Al Quran emang keren yaa… Bisa diterapin buat semua umur. Setelah baca ini, kita rasanya jadi lebih kenal diri sendiri.” (Abi, kelas XI-2 SMAN XI Bandung)

AL-IKHLASH

GENERASI ANAK AYAM

”Kenapa remaja bisa terjebak narkoba?“ tanya Hagia.
Itu pertanyaan yang bagus untuk memulai pembicaraan Surat Al-Ikhlash,” jawab Pak Murysid dengan tangkas. Untuk menjawab pertanyaanmu ini, mari kita pergi ke pasar.
”Kenapa harus ke pasar segala? Biasanya seluruh cerita tentang Al-Quran cukup disampaikan di dalam rumah, tetapi kenapa hari ini beliau mengajak ke Pasar?” Hagia bertanya-tanya dalam hatinya.
Ikuti pengalaman dan pelajaran berharga dari kunjungan Hagia ke Pasar bersama Pak Mursyid.

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku :

• Hanya Allah yang harus dibutuhkan karena hanya Allahlah yang tidak membutuhkan apa pun.
• Keikhlasan berarti melakukan tindakan murni, tanpa keinginan mendapatkan pujian dari siapa pun kecuali berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan menolong.

Komentar Pembaca :

• “Dulu aku anti baca buku kayak gini. Abis kesannya nggak seru sih! Tapi setelah baca buku ini, ternyata berguna banget sebagai inspirasi. Yang awalnya aku tau Surat Al-Ikhlash cuma sebatas artinya aja, ternyata punya makna yang dalem banget. Pemikiranku berubah jadi lebih luas lagi. Pokoknya ga rugi deh!” (Vaskhia Viega S, Kelas XI 8B SMAN 3, Bandung)

• “Saya suka banget Al-Ikhlash, dari kecil …apalagi sekarang! Sesudah tau makna sebenernya dari Al-Ikhlash, saya makin suka deh! Buku ini penting banget dibaca para remaja sekarang…!” (Qatrinnadya P. Elvinaro, Kelas XII A-5 , SMAN 6 Bandung)

• “Abis gwa baca ini buku, ternyata gwa baru nemuin 2 kata simple, tapi complex banget artinya, yaitu ahad dan shamad. Persepsi gwa tentang buku ini yang cuma buat orang tua aja tuh ternyata salah. Gwa bisa ngerti juga koq, karena bahasanya nyantai, tapi isinya bisa ngebuka wawasan kita jadi lebih tentang apa itu Al-Quran. Rugi deh kalo kamu ampe nggak baca!” (Annisa Nuraini, Kelas XI A7, SMAN 8 Bandung)
• “Subhanallah…such a very good book, two thumbs up for the writer! Direkomendasiin banget buat orang-orang yang ingin lebih dekat sama Allah dan ingin tumbuh sebagai diri sendiri. Mau sukses? Be your self!”(Shafa, Fakultas Kedokteran UNPAD 2005)
• “Speechless banget baca buku ini. Surat sependek Al-Ikhlash ternyata punya makna yang luas sampe ke hal-hal yang kecil, yang kita anggap sepele. Begitu dikaji di sini, mata kita jadi terbuka lebih lebar ngeliat bahwa hal-hal kecil itu bisa jadi hal yang luar biasa istimewa.” (Mische I M, Fakultas Psikologi UNISBA 2006)

AL-KAFIRUN

AKU MALU

”Aku malu, hari ini aku benar-benar malu!. Ceritanya bermula dari kunjungan sekolahku ke sekolah kristen, biasa studi banding. Dari awal aku udah terkagum-kagum pada sekolah itu, bahkan udah minder duluan. Soalnya dari tahun ke tahun sekolah ini menghasilkan siswa-siswi dengan nilai ujian nasional yang bagus-bagus. Belum lagi kegiatan ekskulnya, sudah terkenal seantero jagat. Hanya beberapa kali saja sekolahku bisa mengimbangi prestasi mereka. Jadi pas menginjak halamannya, aku udah degdegan, membayangkan pertemuan dengan sekolah para juara, sekolah yang diminati dan bisa menghasilkan orang-orang jenius”, demikian catatan Hagia memulai buku ini. Apa yang membuat Hagia malu dengan teman barunya yang non muslim? Pada buku ini Hagia mendapat pengalaman dan pelajaran berharga terlibat kerjasama dengan orang non muslim membantu korban bencana alam. Apa saja? Baca aja deh buku Al-Kafirun ini.

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini:

• Keyakinan harus dinyatakan dalam tindakan, yaitu dengan bersikap tegas pada perbedaan tanpa harus melukainya.
• Bertoleransi berarti menghormati tanpa mencampurkan cara dan objek ibadah.

Komentar Pembaca :

• Buku ini bagus banget! Bisa bikin qt tw banyak hal tentang agama. Selain itu, bisa bikin qt jadi orang yang lebih baik n berbuat hal-hal yang positif. Aku nggak nyangka kalo surat ini punya banyak makna, padahal surat Al-Kafirun ini surat yang pendek. Buat orang yang mau mengubah drinya jadi lebih baik, buku ini wajib dibaca. Dijamin nggak bakalan rugi!! (Tika Sekar T, Kelas 7E SMPN 5, Bandung)
• “Ya Allah… buku ini bagus banget! 2 thumbs up! Bahasanya mudah dimengerti. Penjelasan dengan metode ilustrasi dan dialog yang dipakai juga cocok untuk pembaca segala umur. Uraian Surat Al-Kafirun bener-bener dikupas! Keislaman kita insya Allah bener-bener makin kuat. Pokoknya, wajib baca deh!” (Helin Mayangsari, Kelas XI IPA 4, SMAN 3 Bandung)
• “Subhanallah..bener-bener beda! Buku ini bisa nyampein hal yang berat n penting dengan cara yang sederhana. Bener-bener ngenalin kekafiran, tapi nggak dengan cara yang ekstrem, Extraordinary deh! Salut n kudu baca! Aku sendiri banyak ngerasa kurang n malu pas selesai baca buku ini..Bisa jadi media muhasabah. Selamat datang generasi pecinta Al-Quran…!” (Nadya Amalia, Kelas XII IPA, SMA Darul Hikam Bandung)
• “Dengan gaya penulisan khas anak remaja pada umumnya, buku ini menjadi pas dibaca setiap remaja muslim yang saat ini tengah dilanda krisis identitas diri. Semoga buku ini bisa menjadi salah satu ikhtiar dalam menajamkan persepsi remaja gaul, tapi tidak kehilangan jati dirinya sebagai remaja muslim unggul, kreatif, dan istiqamah.” (Dadang Komarudin, Staf Pengajar SMA Darul Hikam dan SMAN 19 Bandung).

AL-FATIHAH

TERSEKAP DI RUANG KACA TERKUNCI
Hagia yang sedang mendengarkan cerita pak Mursyid langsung merinding. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya ia berada di ruang aneh itu. “Ruang itu membatasi gerak kamu, melangkah ke depan tak bisa, ke kiri pun tak kuasa. Bahkan untuk menggeser tubuhmu pun, kamu tak mampu. Sialnya lagi, dinding dan atap ruang itu terbuat dari kaca sehingga kamu bisa melihat semua yang ada di luar sana. Kamu melihat ada pentas musik di luar sana, ada lomba ini dan itu, ada makanan yang enak-enak, ada teman sebayamu yang begitu cool. Semuanya ada di luar sana. Semuanya terhidang buat kamu, begitu dekat dan mudah dijangkau kalau saja kamu tidak tersekap di ruang itu” Kata Pak Mursyid.

“Apa ada ruang seperti itu ? Kalau ada, siapa sih yang iseng menyekap seorang manusia untuk diam di situ ?“ Hagia akhirnya bertanya, ia penasaran. “Bukankah kamu sekarang sedang berada di ruang kaca terkunci itu ?” tanya Pak Mursyid. Benarkah Hagia sedang berada di “Ruang Aneh” itu ?

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini :

• Setiap tindakan pasti dilakukan atas dasar apa atau atas dasar siapa, tindakan yang baik dilakukan atas dasar kasih sayang (prinsip Bismillahirrahmaanirrahiim)
• Kebaikan yang patut mendapat pujian didapatkan pada orang yang memelihara lingkungan, kasih sayang pada sesama, dan merencanakan masa depan (prinsip ayat 1-3)
• Kebaikan ditemukan ketika kita terus melayani Tuhan dan memperbaiki cara memikirkan anugerah Tuhan.

Komentar Pembaca :

• “Makin deket makin indah. Itu juga yang kita rasain waktu deket ama Allah lewat buku ini” (Q-ka, Kelas VII-A, SMP Taruna Bakti Bandung)
• Buku ini ngungkapin kalo masalah kita bisa kebantu lewat mahamin Al Fatihah lho…! “(Gdish, Kelas X-D, SMAN 2 Bandung)
• “Cuma 2 kata buat buku ini : BAGUS BUANGET!!!. Ngulas makna-makna ayat-ayat di Surat Al Fatihah. Jadi kita tau makna n artinya. Trus, kalo kita baca Surat ini waktu salat jadi khusyu, soalnya sambil dibaca sambil dibayangin juga maknanya. Dijamin nggak bakal rugi beli ni buku. Two thumbs up deh.” (Myrna Annisaniwaty, Kelas III IPA SMA Darul Hikam Bandung)
• “Ternyata Al Fatihah nggak se-simple yang saya kira. Buku ini ngasih berbagai inspirasi baru dan motivasi saya buat jadi the best.” (Ilham, Kelas XII-I, SMAN 5 Bandung)
• “Buku ini asyik untuk dibaca, ngajarin tentang Al Quran dengan cara yang nggak biasa, MENARIK!! Nggak usah deh, khawatir nggak ngerti apa yang dibaca waktu salat kalo dah baca buku ini.” (Reza, Manajemen UNPAD ’05)

AYAT KURSI

KUBURAN TUA DAN PAK DAMIN

“Nah, anakku,”lanjut Pak Mursyid, “agar kamu bisa faham ayat kursi ini kamu harus mencari maknanya sendiri. Kamu harus keluar, bertemu dengan orang-orang dengan pelbagai profesi, ngobrollah dengan mereka dan bertanyalah tentang isi Ayat Kursi ini. Ayat ini berisi tentang Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus Mengurusi, Mengembangkan. Cobalah kau datangi pembuat nisan (penggali kubur) di pinggir kota ini. Ngobrollah dengan tukang ronda dan orang paling kaya” demikian tugas Pak Mursyid kepada Hagia.

Simak obrolan dan pengalaman menarik Hagia beberapa hari bersama penjaga kubur, Pak Damin, yang dingin dan Aki Muslih si tukang ronda. Mengapa Hagia harus bertemu dua tokoh ini untuk dapat memahami Ayat Kursi.

Prinsip Nilai yang bisa dipetik dari buku ini :

• Kekuasaan Allah lebih besar daripada tipu daya siapa pun.
• Allah terus menerus berjaga untuk keselamatan hamba-Nya yang terus meyakini kekuasaan-Nya.

Komentar Pembaca :

• “Bukunya bagus banget! Apalagi tentang Ayat Kursi-nya. Aku tersentuh banget pas baca buku ini. Pokoknya acungin jempol buat yang nulis. Semoga banyak novel islami kayak gini, biar para remaja tau gunanya membaca ayat-ayat Al-Quran.” (Lidia Tyas, Kelas VII, SMPN 28 Bandung)
• ”Subhanallah ..Al-Quranku emang bener-bener keren! Buku ini membahas secara detail isi dan makna Ayat Kursi dengan gaya bercerita yang cocok buat para remaja. Jadi gampang untuk dimengerti. Sukses deh bwt penulisnya. Pokoknya buku ini keren banget! Wajib dibaca! (Fathiyah Rahmi Hidayat, Kelas XII IPA, SMAN 3 Bandung)
• “Isi bukunya bagus banget dan bermanfaat banget buat para remaja sekarang. Banyak ngajarin kita untuk lebih pasrah kepada-Nya dan ngeyakinin kita untuk tidak sedikit pun meragukan-Nya. Buku ini akan bermanfaat buat temen-temen remaja” (Sulastri, Kelas XII IPS, SMAN 11 Bandung)
• “Satu lagi karya Bambang Q-Anees yang penuh dengan pencerahan. Remaja Muslim wajib membaca, menghayati, dan mengamalkannya. Buku ini dapat mengubah cara pandang dan hidup kita, dapat menjawab pertanyaan yang sering muncul dalam diri kita, khususnya remaja. Dahsyat! Insya Allah, akan menjadi ilmu yang sangat bermanfaat.” (Arifa, Fakultas Kedokteran UNISBA, 2006)
• “Luar biasa…Buku yang sangat cocok tidak hanya untuk remaja tetapi juga untuk kaum dewasa. Perpaduan yang khas antara cerita sarat hikmah dan penulisan dengan gaya bahasa yang lugas dan natural. Memuat pembacanya terjebak dalam aliran cerita secara mendalam, seolah menjadi pelaku dari setiap kata yang digoreskan sehingga sangat mudah memahami isi buku ini.” ( Prasetiyono Hari Mukti, Ketua Umum Karisma ITB, Mahasiswa Teknik Elektro ITB)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: