HERBAL MENUJU SEHAT


INFORMASI TENTANG PENTINGNYA HERBAL

Ikatan Dokter Indonesia bersama Kementerian Kesehatan tengah menyusun kurikulum untuk diaplikasikan dalam pendidikan dan pelatihan pengenalan obat-obatan herbal bagi dokter umum di Indonesia. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar IDI Slamet Budiarto mengatakan, penyusunan kurikulum sudah dilakukan selama enam bulan.

”Kurikulum akan diterapkan pada pelatihan bagi para dokter yang sudah berpraktik, terutama dokter umum,” kata Slamet seusai berbicara dalam Seminar Perkembangan Herbal dan Penggunaannya dalam Bidang Kesehatan yang diselenggarakan IDI Kota Padang dan produsen jamu Sido Muncul di Kota Padang, Sabtu (15/5).

Slamet mengatakan, kurikulum tentang obat-obatan herbal diharapkan bisa menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada obat impor. Di sisi lain, dilakukan upaya penelitian guna mendapatkan sandaran ilmiah bagi tanaman herbal untuk bisa digunakan dalam pengobatan medis.

Menurut Slamet, selama ini obat-obatan herbal baru digunakan pada tingkat promotif, belum sampai pada tingkat kuratif (pengobatan).

Guru Besar Universitas Diponegoro, Semarang, Prof dr Edi Dharmana menambahkan, hambatan terbesar untuk memproduksi dan mengenalkan obat herbal ialah relatif minimnya anggaran penelitian. Penelitian penting untuk uji klinis obat herbal sebelum menjadi fitofarmaka.

”Kita harapkan para dokter mau menggunakan obat herbal. Masalahnya, belum semua obat (herbal) diteliti kandungan aktifnya. Jadi, tidak ada bukti klinis sehingga dokter ragu,” kata Edi yang juga peneliti obat herbal dan ahli imunologi itu.

Edi menyatakan, saat ini di Indonesia baru ada lima obat herbal Indonesia yang lulus uji klinis untuk jadi fitofarmaka, yaitu Stimuno (peningkat kekebalan tubuh), Tensigard Agromed (obat darah tinggi), X-Gra (peningkat gairah seksual laki-laki), Rheumaneer (pengurang rasa nyeri), dan Nodiar (antidiare).

Namun, setelah lolos uji klinis, obat herbal dari bahan-bahan alami tadi harganya relatif mahal dan cenderung sama dengan obat-obatan impor. Contohnya Tensigard Agromed yang terbuat dari seledri (Apium graviolens L) dan tanaman kumis kucing (Orthosiphon stamineus Bent).

Menanggapi hal tersebut, Slamet mengatakan, yang terpenting memanfaatkan dan menggunakan dulu obat herbal dari keanekaragaman hayati Indonesia

Metode pengobatan herbal yang menggunakan bahan-bahan alami, telah dilakukan masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lalu dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Berdasarkan hasil penelitian Kementerian Kesehatan Indonesia, dari 40.000 spesies tanaman herbal di dunia, sekitar 30.000 diantaranya ditemukan di Indonesia.

“Bahkan, 9.600 spesies tanaman dinyatakan berkhasiat obat dan 400 spesies telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional,” kata anggota Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sumut, Amri Amir, pagi ini.

Sayangnya, katanya, tanaman berkhasiat obat tersebut lebih banyak dimanfaatkan oleh negara asing. Setelah tanaman berkhasiat itu diolah menjadi obat-obatan, lalu negara asing tersebut menjualnya ke Indonesia.

“Ini merupakan kesalahan kita yang tidak mengeksplorasi lebih dalam kekayaan sumber daya alam di Indonesia. Padahal, di tahun 2005 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 75-80 persen penduduk dunia pernah menggunakan obat-obatan herbal,” ujarnya.

Ditambahkan, sudah saatnya para praktisi medis dan farmasi lebih mengenal, mempelajari, mendalami dan mengintegrasikannya ke dalam metode pengobatan kedokteran konvensional.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: